Walaupun dijaman yang serba modern
dan canggih, antusias orang untuk dapat menguasai Ilmu Terawangan sangatlah
tinggi. Ribuan bahkan jutaan orang dimuka bumi ini banyak yang datang
berduyun-duyun ketempat-tempat praktek Paranormal yang tujuannya mempelajari
Ilmu Terawangan.
Namun tanpa disadari oleh kita
semua, perburuan mendapatkan Ilmu Terawangan atau dalam kata lain, ambisi kita
untuk mendapatkan Ilmu tersebut kadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum paranormal
yang tidak bertanggung jawab, yang mengiming-ngimingi dapat menghantarkan
seseorang untuk menembus alam ghaib dengan imbalan / mahar yang mencekik leher.
Yang lucunya, terkadang oknum yang
mengiming-imingi dapat menghantarkan seseorang tembus alam ghaib itu secara
pribadi ia tidak pernah melihat alam ghaib secara langsung. Sehingga tidak
heran, banyak para peminat ilmu terawangan yang merasa tertipu dan dibohongi.
Padahal cukup banyak pengorbanan yang telah dikeluarkan baik dana, waktu,
tenaga serta pikiran, namun hasil yang didapat nol besar
Apa dasarnya peminat Ilmu Terawangan
banyak yang mengalami kegagalan, walaupu ia telah mengeluarkan mahar yang cukup
besar. Inti kegagalannya adalah karena kita belum memiliki serta memahami syarat
dan dasar menguasai ilmu terawangan. Atas dasar ingin berbagi dengan para
peminat Ilmu Terawangan, berikut kami jabarkan syarat dan dasar menguasai ilmu
terawangan. Semoga apa yang kami berikan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
kita semua. Amiin
Untuk dapat menguasai ilmu terawangan,
ada 3 tingkatan yang harus dikuasai secara bertahap, ketiga tingkatan itu
adalah :
ILMU PENERAWANGAN SEMEDI MEDITASI TAK BERATURAN
-
Ambilah posisi duduk bersila, kedua tangan diatas lutut.
-
Pejamkan mata
-
Berdoa kepada Allah AWT, untuk meminta keselamatan dan perlindungan dalam
melakukan semedi meditasi
-
Kemudian tarik nafas dan tahan beberapa lama kemudian hembuskan nafas, lakukan
beberapa kali untuk menenangkan pikiran
-
Setelah pikiran tenang kemudian konsentrasikan segala pikiran, rasa , karsa,
cipta pada keluar masuknya napas. Napas dalam keadaan biasa/tidak menahan
napas, jadi napas seperti biasa
-
Latihlah semedi meditasi tingkat 1 ini selama kurang lebih 1 hingga 2 minggu.
Lama latihan 1 jam. Untuk pemula latihan dianjurkan pada jam 12 malam dan
berada ditempat yang gelap.
-
Setelah anda berlatih pada jam 12 malam dan telah berhasil melihat
bayangan-bayangan alam ghaib, maka selanjutnya anda latihan semedi meditasi
pada siang hari.
-
Jika anda sudah bisa melihat bayangan alam ghaib, alam nyata, alam roh baik
pada siang hari maupun malam hari, anda tingkatkan untuk melanjutkan semedi
meditasi tingkat 2
SEMEDI / MEDITASI TINGKAT 2 PENYEARAHAN
Caranya : lakukan semedi meditasi seperti cara semedi
meditasi tingkat Satu
-
Latihan dilakukan pada jam 12 malam, lama latihan 1 jam
-
Ketika berdoa kepada Allah SWT, mintalah tujuan serta niat yang mau kita lihat
misalkan minta melihat alam ghaib, alam nyata. Jadi nanti yang terlihat akan
sesuai dengan tujuan yang kita niatkan.
-
Setelah anda mampu melihat bayangan alam ghaib penyearahan pada malam hari,
dilanjutkan latihan pada siang hari
-
Setelah kita dapat melihat alam ghaib, alam nyata, alam roh pada siang hari,
kita bisa melanjutkan ilmu penerawangan semedi meditasi tingkat 3
ILMU PENERAWANGAN SEMEDI MEDITASI PENYEARAHAN TINGKAT
TIGA (3)
-
Latihan dilakukan pada jam 12 malam
-
Lakukan semedi meditasi seperti cara semedi tingkat 1
-
Ketika membaca permohonan doa kepada Allah SWT, niatkan tujuan yang mau kita
lihat, apakah alam ghaib, alam nyata, dan alam roh
- Anda harus berusaha dalam melatih
tingkat 3 ini bayangan yang terlihat harus sesuai dengan kehendak bathin, dan
bayangan tersebut terlihat dalam jangka waktu 5 hingga 10 menit, jadi dalam
waktu singkat anda mampu melihat alam yang anda kehendaki
- Setelah anda mampu melihat alam yang anda kehendaki dalam waktu 5 hingga 10
menit diwaktu malam hari, sekarang anda latih pada siang hari.
- Setelah anda mampu menguasai ilmu penerawangan tingkat 3 dan anda sudah dapat
berkomunikasi dengan makhluk halus berarti anda sudah menguasai ilmu
penerawangan dengan sempurna.
Dalam khazanah pewayangan Jawa,
Abimanyu, sebagai putra Arjuna, merupakan tokoh penting. Di bawah ini
dipaparkan ciri khas tokoh ini dalam budaya Jawa yang sudah berkembang lain
daripada tokoh yang sama di India.
Dikisahkan
Abimanyu karena kuat tapanya mendapatkan Wahyu Makutha Raja, wahyu yang
menyatakan bahwa keturunannyalah yang akan menjadi penerus tahta Para Raja
Hastina. Abimanyu dikenal pula dengan nama Angkawijaya, Jaya Murcita, Jaka
Pengalasan, Partasuta, Kirityatmaja, Sumbadraatmaja, Wanudara dan Wirabatana.
Ia merupakan putra Arjuna, salah satu dari lima ksatria Pandawa dengan Dewi
Subadra, putri Prabu Basudewa, Raja Mandura dengan Dewi Dewaki. Ia mempunyai 13
orang saudara lain ibu, yaitu: Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa,
Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati,
Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa dan Bambang Sumbada. Abimanyu merupakan
makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan ia telah mendapat “Wahyu
Hidayat”, yang mampu membuatnya mengerti dalam segala hal. Setelah dewasa ia
mendapat “Wahyu Cakraningrat”, suatu wahyu yang dapat menurunkan raja-raja
besar.
Abimanyu mempunyai sifat dan watak
yang halus, baik tingkah lakunya, ucapannya terang, hatinya keras, besar
tanggung jawabnya dan pemberani. Dalam olah keprajuritan ia mendapat ajaran
dari ayahnya, Arjuna. Sedang dalam olah ilmu kebathinan mendapat ajaran dari
kakeknya, Bagawan Abiyasa. Abimanyu tinggal di kesatrian Palangkawati, setelah
dapat mengalahkan Prabu Jayamurcita. Ia mempunyai dua orang istri, yaitu:
Dewi Siti
Sundari, puteri Prabu Kresna, Raja Negara Dwarawati dengan Dewi Pratiwi;
Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni
Yutisnawati, dari negara Wirata, dan berputera Parikesit.
Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuddha
setelah sebelumnya seluruh saudaranya mendahului gugur, pada saat itu kesatria
dari Pihak Pandawa yang berada di medan laga dan menguasai strategi perang
hanya tiga orang yakni Bima, Arjuna dan Abimanyu. Gatotkaca menyingkir karena
Karna merentangkan senjata Kunta Wijayadanu. Bima dan Arjuna dipancing oleh
satria dari pihak Korawa untuk keluar dari medan pertempuran, maka tinggalah
Abimanyu.
Ketika tahu semua saudaranya gugur
Abimanyu menjadi lupa untuk mengatur formasi perang, dia maju sendiri ke tengah
barisan Kurawa dan terperangkap dalam formasi mematikan yang disiapkan pasukan
Kurawa. Tak menyiakan kesempatan untuk bersiap-siap, Kurawa menghujani senjata
ke tubuh Abimanyu sampai Abimanyu terjerembab dan jatuh dari kudanya (dalam
pewayangan digambarkan lukanya arang kranjang = banyak sekali). Abimanyu
terlihat seperti landak karena berbagai senjata menancap di tubuhnya. Konon
tragedi itu merupakan risiko pengucapan sumpah ketika melamar Dewi Utari, bahwa
dia masih belum punya istri dan apabila telah beristri maka dia siap mati
tertusuk berbagai senjata ketika perang Bharatayuddha. Abimanyu berbohong
karena ketika itu sudah beristrikan Dewi Siti Sundari.
Dengan senjata yang menancap
diseluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa jalan lagi tidak membuat Abimanyu
menyerah dia bahkan berhasil membunuh putera mahkota Hastinapura (Lesmana
Mandrakumara putera Prabu Duryudana) dengan melemparkan keris Pulanggeni
setelah menembus tubuh empat prajurit lainnya. Pada saat itu pihak Korawa tahu
bahwa untuk membunuh Abimanyu, mereka harus memutus langsang yang ada
didadanya, kemudian Abimanyu pun gugur oleh gada Kyai Glinggang atau Galih Asem
milik Jayadrata, satria Banakeling.
Semua ilmu
ghaib akan berfungsi dengan baik, jika sudah dapat mengendalikan tenaga dalam.
Ada beberapa cara yg diajarkan tetapi mebutuhkan waktu yg lama dan latihan
terus menerus. tetapi cara inilah yg sekiranya paling mudah untuk memaksa
mengeluarkan tenaga dalam dalam tubuh kita sekaligus mengendalikannya untuk
kepentingan yg baik. mudah mudahan saja berguna.
cara caranya :
1. pertama tama, duduk bersila dilantai. konsentrasikan pikiran anda kesatu
titik saja. bayangkan seluruh energi dalam tubuh anda mengalir dan rasakan itu.
2. angkat kedua tangan anda sejajar didepan dada. lengan merapat kebadan.
telapaknya saling berhadap hadapan. seperti sedang akan sungkem. lalu tariklah
nafas dalam dalam. sambil tangan anda mulai dijauh dekatkan satu sama lain.
ingat tangan jangan bersentuhan. hanya dipompakan antar tangan satu ketangan
lainnya.(memancing energinya keluar)
3. sambil tangan terus begitu. tarik nafas yg dalam dalam lalu buang dengan
teratur. kemudian mulailah menggunakan bacaan ini untuk mempercepat proses
pengeluaran tenaga dalam tersebut (spt doppingnya lah )
BACAANNYA : YAA...QOWWIYYUU...YA,...MATIIIN.........
4. bacaan tersebut diulang ulang terus, dan semakin cepat beriringan dengan
tangan anda yg juga makin cepat memompa satu sama lain. ingat, semakin mulai
terasa energinya muncul semakin cepat saja anda mainkan gerakan tangan anda
memompa.
5. jika konsentrasi anda benar dan bakat anda besar, maka dalam waktu beberapa
menit saja, tangan anda akan bergerak sendiri tanpa dipompa lagi. bahkan jika
energi anda besar, tangan itu akan bergerak sampai keatas sangat kencang sekali
(seperti putaran kipas angin). bahkan susah untuk dikendalikan. jika anda ingin
menghentikan energi tersebut, gampang, tinggal meniatkan berhenti saja maka
akan berhenti pula semua itu.
6. jika cara seperti itu sudah berhasil, sekarang kita coba cara yg halus.
ulangi sekali lagi semua ritual diatas. hanya kali ini bedanya, tangan anda
digerakkan/dipompa satu sama lain secara perlahan saja. bayangkan ditengah
antar telapak tangan anda yg satu dengan yg lain ! anda akan merasakan ada
seperti bola energi yang seakan menghalangi ditengah tengah. bahkan hawanya akan
terasa panas diantara tangan anda. anda pun dapat memegang2 bola energi
tersebut spt bola karet yg ditekan tekan
Kalau dibeberapa perguruan lain ini disebut ilmu kontak. sebenarnya
menurut manfaatnya, konon dahulu kala ilmu ini sering digunakan beberapa
perguruan silat untuk mengeluarkan jurus secara otomatis ketika diserang tiba
tiba.
1. berdiri tegak, konsentrasikan pikiran anda. pusatkan pikiran hanya kepada
Allah.niatkan dengan baik sperti niat ketika sholat. niatkan bahwa anda meminta
pertolongan allah untuk menggunakan ilmu kontak kebadan anda. Niat disini
disertai keinginan ingin memasukkan kontak gerakan apa....misalnya : Ya allah,
dengan pertolonganmu..saya berniat ingin memasukkan gerakan jurus cimande
kedalam badan saya....
niat harus benar2 disertai keyakinan yg kuat.
2. setelah itu, tarik nafas dalam dalam sekali. buang dengan perlahan. kedua
kali tarik lagi nafas anda seperti tadi. dan buang juga dgn teratur. nah yg
ketiga kalinya tarik nafas panjang dan dalam namun terakhirnya tahan diperut
anda (dipusat perut)
3. sambil nafas tertahan dipusat perut, ucapkan ini dalam hati : YA QOWWIYU YA
MATIIN....3 x
4. setelah itu langsung anda hentakkan kaki anda kelantai 3 x disertai sebut
nama panggilan anda juga 3 x (semua dilakukan sambil masih menahan nafas tadi)
5. pada hentakan yang terakhir dilantai disertai sebutan nama anda yg terakhir
itu juga, langsung lepaskan nafas anda yg ditahan tadi !
6. tubuh anda akan segera bereaksi bergerak secara otomatis begitu nafas
selesai dibuang keluar.
pada awalnya biasanya gerakan ini masih lemah.
anda dituntut mengikuti gerakan tersebut. jangan ditahan jika tangan anda ingin
bergerak atau membengkok kearah mana.
ini harus dilatih berulang2 sampai anda benar2 peka mengikuti gerakan yg
membawa badan anda secara otomatis
Tips dari saya sih,...untuk membuat gerakan lebih terlihat jelas sebaiknya jgn
lemaskan badan anda. mendingan dikeraskan/ditegangkan, agar ketika ada gerakan
yg menuntunnya akan terasa dibadan kita harus bergerak kearah mana.
kalau sudah lancar, gerakan anda akan cepat sekali secepat gerakan asli yg anda
tiru.
jika ingin menghentikan gerakan ini cukup niat saja ingin berhenti pada Allah.
lemaskan kembali badan anda.
dan segera buang nafas panjang.
Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa
sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia dicegah oleh saudara-saudaranya agar
tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak menghiraukan. Ia
segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta
pawitra. Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai
realisasi salah satu tahap syariat.
Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru
Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada
gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya. Dalam berkomunikasi dengan
kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan ragam Krama.
Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama
kepada gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.
Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan
dengan Tarekat
Tarekat (Jawa laku budi, sembah cipta) adalah
tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih maju. Dalam tahap ini
kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama
diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan (Mulder, 1983:24). Amalan yang dilakukan
pada tahap ini lebih banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan
manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.
Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia sempurna akan menyesali
terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang maksiat,
dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan
ajarannya terhadap orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib
saja yang dilakukan. Ia menambah lebih banyak salat sunat, lebih banyak berdoa,
berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan. Dalam menjalankan
puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi
makan, lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam
persepian, dan melakukan khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara
sebagai fakir.
Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan
sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30.
Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai
mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka
Hutan Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia
menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna
menjawab, “Tempatnya berada di tengah samudra”. Mendengar jawaban itu Bima
tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, “Jangankan di tengah samudra, di
atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut
menjalankan perintah Sang Pendeta”. Ia segera berangkat ke tengah samudra.
Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima
yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara filosofis
merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.
Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan
dengan Hakikat
Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah
tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini diperoleh dengan mengenal
Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut
nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan
pada tahap ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya
yang lahir ditinggalkan dan melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24).
Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi hamba dengan Tuhan akan
tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu
kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan
alam itu tidak ada, yang ada hanyalah “Yang Ada”, Yang Awal tidak ada permulaan
dan Yang Akhir tidak berkesudahan.
Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul
dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata
hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani. Karena
jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak
ada miskin, dan juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin,
semua ini merupakan wujud ciptaan Tuhan yang berasal dari Tuhan. Segala sesuatu
milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia hanya mendaku saja.
Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar
kecil kepada kebebasan yang luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut
adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67).
Tahap ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup
dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat terjadi dalam
suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara
sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur
Ilahi (Mulyono, 1978:126). Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami
oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal Tuhan lewat dirinya, mengalami
dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam cahaya
(pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda
bagaikan boneka gading yang bersinar).
Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya
menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia kemudian dapat melihat Tuhannya
lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan masuknya
tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci.
Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui
“telinga kiri”. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung
unsur Ketuhanan. Bisikan Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui
“telinga kanan”. Dari telinga ini terus ke hati sanubari. Secara filosofis
dalam masyarakat Jawa, “kiri” berarti ‘buruk, jelek, jahat, tidak jujur’, dan
“kanan” berarti ‘baik (dalam arti yang luas)’. Masuk melalui “telinga kiri”
berarti bahwa sebelum mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk.
Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46).
Setelah Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia
kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama
dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima
waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk.
Magnis-Suseno, 1984:115). Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan
dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima masuk dalam badan Dewaruci ini
secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk mengenali dirinya
sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah
mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenlan diri lewat
simbol yang demikian secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah
mencapai tahap hakikat.
Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat
dan merasakan bahwa dirinya
tidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh
tidak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong,
dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan yang tidak bersisi, tiada
lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang
yang tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh
perasaan batiniahnya. Dia telah lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan
kebakaan Alloh semata.
Segalanya telah hancur lebur kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti
ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh, 1983:312). Segala yang Ilahi
dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu,
manunggal (Daudy, 1983:188).
Zat Tuhan
telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima telah sampai pada
tataran hakikat.
Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak
melihat apa-apa, ia sangat bingung.
Tiba-tibaia melihat dengan jelas
Dewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata
angin, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari.
Keadaan mengetahui arah mata angin ini menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam
keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar karena tidak merasakan
dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak
sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah
sampai pada tataran hakikat.
Setelah mengalami suasana
alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam cahaya.
Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan,
empat warna cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat
berbagai macam cahaya seperti itu secara filosofis melambangkan bahwa Bima
telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan Tuhannya
Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang
melambangkan hati yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama.
Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima disuruh memperlihatkan dan
merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya.
Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu:
merah, hitam, dan kuning.
Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning,
dan putih. Isi dunia sarat dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang
pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa menuju keselamatan, musuhnya
dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan
selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu,
perangai terhadap masing-masing warna itu hendaklah perlu diketahui.
Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi
dan menutup kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak
baik, iri hati dan dengki keluar dari sini. Hal ini menutup (membuat buntu)
kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning pekerjaannya menghalangi
kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh Sri
Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari
warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu
aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu
dengan Tuhannya. Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam,
hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya
sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga
hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan
terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.
Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu
kang warni ‘sinar tunggal berwarna delapan’. Disebutkan bahwa sinar tunggal
berwarna delapan adalah “Sesungguhnya Warna”, itulah Yang Tunggal. Seluiruh
warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada
badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya
tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh
warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang
sejati, Yang Tunggal.
Bima dalam badan Dewaruci
di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna
delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah
Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana ‘Roh’ kedudukannya
dibabtasi oleh jasad. Dalam teks diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di
dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap ke bawah. Akibatnya
mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40)
Makrifat (Jawa laku rasa, sembah rasa) adalah perjalanan menuju manusia sempurna
yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui
sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh, 1987:67). Dalam tasawuf, makrifat
berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan
sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), meliputi
zat dan sifatnya. Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu
ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi
manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan
bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal
seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah
merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan
(Nicholson, 1975:14 (Jawa tan kena kinaya ngapa) (Mulyono, 1982:47), yang
dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dalam masyarakat Jawa hal ini
disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti,
jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.
Pada titik ini manusia
tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan
bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi
wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi
inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia
mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh
manusia yang masih diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan
dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70). Tindakan diri manusia semata-mata menjadi
laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85).
Keadaan yang dialami oleh
Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di
antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan
ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan
mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari
bumi.
Wujud “Yang Sesungguhnya”, yang meliputi segala yang ada
di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu,
yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah
manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan
pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin
Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya,
bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.
Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson,
1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan
manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).
Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air
dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa.
Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti
kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh
Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa
Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa
(Hadiwijono, 1983:45).